Sabtu, 21 November 2020

Antihistamin



  Histamin

Histamin adalah senyawa normal yang ada dalam jaringan tubuh, yaitu pada jaringan sel mast dan peredaran basofil, yang berperan terhadap berbagai proses fisiologis penting. Histamin dikeluarkan dari tempat pengikatan ion pada kompleks heparin protein dalam sel mast, sebagai hasil reaksi antigen-antibodi, bila ada rangsangan senyawa alergen. Senyawa alergen dapat berupa spora, debu rumah, sinar ultra-violet, cuaca, racun, tripsin dan enzim proteolitik lain, detergen, zat wrnaa, obat, makanan dan beberapa turunan amin. Histamin cepat dimetabolisis melalui reaksi oksidasi, N-metilasi dan asetilasi. Sumber histamin dalam tubuh adalah histidin yang mengalami dekarboksilasi menjadi histamin (Soegijanto, 2016). 



Histidin                            Histamin
                                                                                                       
Betazol

 



A.  Efek histamin dengan organ lain

Histamin menimbulkan efek yang bervariasi pada beberapa organ antara lain yaitu:

a. Vasodilatasi kapiler sehingga permeable terhadap cairan dan plasma protein sehingga menyebabkan sembab, rasa gatal, dermatitis dan urtikaria,

b. Merangsang sekresi asam lambung sehingga menyebabkan tukak lambung,

c. Meningkatkan sekresi kelenjar,

d. Meningkatkan kontraksi otot polos bronkus dan usus,

e. Mempercepat kerja jantung,

f. Menghambat kontraksi uterus.

    Efek diatas pada umumnya merupakan fenomena alergi dan pada keadaan tertentu kadang- kadang menyebabkan syok anafilaksis yang dapat berakibat fatal. Mediator reaksi hipersensitivitas adalah antibodi ig E yang terikat pada sel sasaran, yaitu basofil, platelet dan sel mast. Sel sasaran tersebut dapat melepaskan mediator kimia, seperti histamin, eosinofil faktor kemostatik, slow reacting substance (SRS), serotonin, bradikinin, heparin dan asetilkolin. Histamin merupakan mediator utama pada reaksi tipe I fase cepat, mempunyai peran sentral dalam respons imunologis dan inflamasi.

B.  Reseptor Histamin 

Histamin mempunyai beberapa reseptor yaitu reseptor H1, H2, H3 dan H4. Melalui reseptor ini histamin mempunyai efek fisiologis. Pada resptor H1, histamin meningkatkan permeabilitas kapiler, kontraksi otot polos saluran cerna dan pernapasan, pelepasan mediator inflamasi dan penarikan sel-sel inflamasi.

Betazol.2 HCL adalah isomer histamin yang bersifat sebagai agonis histamin. Penggunaannya sama dengan histamin fosfat dan efek samping yang ditimbulkan lebih rendah (Soegijanto, 2016).

C.  Mekanisme Kerja Histamin

    Bersama reseptor H2 menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler, bertanggung jawab pada urtikaria dan gejala anafilaksis seperti hipotensi, flushing, sakit kepala dan takikardia. Afinitas terhadap reseptor H1 adalah 10 kali lebih kuat daripada terhadap H2 yang banyak terdapat pada lambung yang menyebabkan peningkatan sekresi asam, serta pada jantung yang menyebabkan peningkatan kontraksi jantung. Reseptor H3 berperan dalam mengontrol umpan balik negatif (negative feedback) pada sintesis dan pelepasan histamin. Untuk reseptor H4 belum jelas pelepasannya tetapi diduga berfungsi sebagai kontrol reseptor H3 dan sebaliknya. Didalam bidang alergi dikembangkan obat antihistamin yang merupakan antagonis reseptor histamin. Strukturnya mirip seperti histamin sehingga fungsinya sebagai antagonis reseptor dapat dipenuhi (Soegijanto, 2016).



Antihistamin 



Antihistamin atau obat alergi adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor- histamin. Antihistamin pertama kali dikembangkan pada tahun 1930-an. Prevalensi penggunaan antihistamin yang dilaporkan berkisar antara 4- 10% selama kehamilan trimester pertama dan 8-15% setiap saat selama kehamilan. .Antihistamin banyak digunakan untuk pengobatan berbagai kondisi, termasuk reaksi alergi akut, rhinitis alergi, konjungtivitis alergi, asma alergi, urtikaria dan dermatitis atopik. 


Contoh alergi terhadap panas


Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat mentralkan atau mengubah efek histamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor spesifik. Berdasarkan hambatan pada reseptor spesifik, antihistamin dibagi menjadi 3 kelompok yaitu antagonis-H1, antagonis H-2 dan antagonis H-3.

Reseptor H1 ditemukan pada neuron, otot polos, epitel dan endothelium digunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi. Reseptor H2 ditemukan pada sel parietal mukosa lambung, otot polos, epitelium, endotelium, dan jantung digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan penderita tukak lambung, Reseptor H3 terutama ditemukan pada neuron histaminergik, dan reseptor H4 ditemukan pada sum-sum tulang dan sel hematopoitik perifer. Istilah antihistamin pertama kali ditujukan pada reseptor antagonis H1 yang digunakan untuk terapi penyakit inflamasi dan alergi. Antagonis reseptor H1 dapat dibagi menjadi generasi pertama dan generasi kedua (Sari dan Yenny, 2018).


1.     Antagonis-H1

Antagonis ini sering pula disebut dengan antihistamin klasik, merupakan senyawa yang dalam kadar rendah dapat menghambat secara bersaing kerja histamine pada jaringan yang mengandung reseptor H1. Diklinik biasanya digunakan untuk mengurangi gejala alergi karena musim atau cuaca, misalnya radang selaput lender atau hidung,bersin, gatal pada mat, hidung atau tenggorokan, dan gejala alergi pada kulit, seperti pruritic, urtikaria, ekzem dan dermatitis. Selain itu antagonis-H1 juga digunakan sebagai :

·         Antiemetic

·         Antimabuk

·         Anti Parkinson

·         Antibatuk

·         Sedative

·         Antipsikotik

·         Anestetik setempat 

 

Antagonis-H1 kurang efektif untuk pengobatan asma bronkial dan syok anafilaksis. Kelompok ini menimbulkan efek potensiasi dengan alkohol dan obat penekan sistem saraf pusat lain.

Efek samping

·         Mengantuk

·         Kelemahan otot

·         Gangguan koordinasi pada waktu tidur

·         Gelisah

·         Tremor

·          Iritasi

·          Kejang

·         Sakit kepala

Berdasarkan struktur kimia antagonis-H1 dibagi menjadi 6 kelompok yakni,

  ->Turunan eter aminoalkil 

Turunan eter aminoalkil yang pertama kali digunakan sebagai antagonis-H1 adalah difenhidramin. Studi hubungan kuantitatif turunan difenhidramin oleh kutter dan Hansch menunjukkan bahwa sifat lipofil dan sterik mempengaruhi aktivitas antihistamin dan pengaruh sifat sterik lebih dominan disbanding sifat lipofil 

Efek samping  biasanya mengantuk dan untuk saluran cerna relative lebih rendah.

Example :

1. Difenhidramin HCL (Benadryl), merupakan antihistamin kuat yang mempunyai efek sedative dan antikolinergik. Senyawa ini digunakan untuk pengobatan berbagai kondisi energi, seperti pruritic, urtikaria,ekzem, rhinitis, untuk antispasmodic (antikolinergik), antiemtik dan obat batuk. Difenhidramin diikat oleh plasma protein80-98%, kadar plasma tertinggi dicapai dalam 1-4 jam setelah pemberian oral



2.  Karbinoksamin maleat (Clistin), mengandung satu atom C asimetrik yang mengikat dua cincin aromatic. Bentuk yang aktif adalah isomer levo dengan kovigurasi S karena dapat berinteraksi secara serasi dengan reseptor H1. Karboksinamin menimbulkan efek sedasi yang lebih ringan disbanding difenhidramin.


3.Piprinhidrinat (kolton), difenilpiralin 8-kloroteofilinat, digunakan terutama untuk pengobatan rhinitis, alergi konjugtivis dan demam karena alergi. Dosis : 3-6 mg 2 dd.

->Turunan etilendiamin 

Merupakan antagonis H1 dengan keefektifan yang cukup tinggi, meskipun efek penekan sistem saraf pusat dan iritasi lambung cukup besar. Fenbenzamin(mepiramin) merupakan antagonis H1 turunan etilendiamin yang pertama kali digunakan dalam klinik. Penggantian isosterik gugus fenil dengan gugus 2-piridil, seperti pada tripelenamin, dapat meningkatkan aktivitas dan menurunkan toksisitas. Pemasukan gugus metoksi pada posisi para gugus benzyl tripelamin, seperti pada pirilamin akan meningkatkan aktivitas dan memperlambat masa kerja obat.

Example

1. Tripelenamin HCL (Azaron, Tripel), mempunyai efek antihistamin sebading dengan difenhidramin dengan efek efek samping lebih rendah. Tripelenamin juga digunakan untuk pemakaian setempat karena mempunyai efek anestesi setempat. Efektif untuk pengobatan gejala alergi kulit, seperti pruritis dan urtikaria kronik.

 2. Antazolin HCL (antistine) mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendah di banding turunan etilendiamin lain. Antazolin mempunyai efek antikolinergik dan lebih banyak digunakan untuk pemakaian setempat karena mempunyai efek anestesi setempat dua kali lebih besar di banding prokain HCL. Dosis untuk obat mata : larutan 0,5%.   

-> Turunan alkilamin

Turunan alkilamin ini merupakan antihistamin dengan indeks terapetik(batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relative rendah.

Example

1.  Feniramin maleat (Avil), merupakan turunan alkilamin yang mempunyai efek antihistamin H1 terendah. Diperdagangkan dalam bentuk campuran rasematnya. Harus diberikan bersama dengan makanan.



2. Dimetinden maleat (fenistil), aktif dalam bentuk isomer levo, digunakan untuk pengobatan pruritic dan berbagai bentuk alergi. Awal kerja obat cepat, 20-60 menit setelah pemberian oral dan efeknya berakhir setelah 8-12 jam.

 

-> Turunan piperazin 

Mempunyai efek antihistamin sedang, dengan awal kerja lambat dan masa kerja lama 9-24 jam. Terutama digunakan untuk mencegah dan mengobati mual, muntah dan pusing serta untuk mengurangi gejala alergi seperti urtikaria.

Example

1.     Homoklorsiklizin (homoclomin), mempunyai spectrum kerja luas, merupakan antagonis yang kuatbterhadap histamine, serotonin, dan asetilkolin serta dapat memblok kerja bradikinin dan (SRS-A). Homoklorsiklizin digunakan untuk pengobatan gejala pada alergi dermal, seperti pruritis, ekzem dermatitis dan erupsi, serta alergi rhinitis. Penyerapan obat dalam saluran cerna cukup baik, kadar plasma tertinggi dicapai 1 jam setelah pemberian oral. Dosis 10-20 mg 3dd.



 

-> Turunan fenotiazin 

Turunan fenotiazin selain mempunyai efek antihistamin juga mempunyai aktivitas transquilizer dan antiemetic, serta dapat mengadakan potensiasi dengan obat analgesik dan sedatif.

Example

1. Metdilazin HCL (Tacaryl) digunakan terutama sebagai antipruritic. Absorbs obat dalam dalam saluran cerna cepat, kadar darah tertinggi dicapai 30 menit setelah pemberian oral.



2. Mekuitazin ( nmeviran) adalah antagonis H1 yang kuat dengan masa kerja lama, digunakan untuk memperbaiki gejala alergi, terutama alergi rhinitis, pruritic, urtikaria, dan ekzem

 

-> Turunan lain-lain

Example

1.Azatadin maleat (zadine) adalah aza isomer dari siproheptadin, didapat dengan cara mereduksi ikatan rangkap C10-C11. Azatadin merupakan antagonis H1 yang kuat dengan masa kerja lama dan efek sedasi rendah. Aktivitasnya 3 kali lebih besar dibandingkan klorfeniramin maleat. Azatadin digunakan untuk alergi kulit, rhinitis dan alergi sistemik.

 


-> Antagonis-H1 generasi kedua 

Antagonis H1 generasi pertama (antihistamin klasik) pada umunmnya menimbulkan efek samping sedasi dan mempunyaii efek seperti senyawa kolinergik dan adrenergic yang tidak diinginkan. Oleh karena itu dikembangkan antagonis-H1 generasi kedua.

Antihistamin H1 yang ideal adalah bila memenuhi persyaratan meliputi:

-          Senayawa mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor  H1

-          Tidak menimbulkan efek sedasi

-          Afinitasnya rendah terhadap reseptor kolinergik dan adrenergik

Example

1. Akrivastin ( semprex), senyawa analog tripolidin yang mempunyai lipofilitas lebih rendah karena mengandung gugus asam akrilat. Penurunan lipofilitas menyebabkan senyawa sulit menembus sawar darah otak, sehingga  tidak menimbulkan efek samping sedasi, menurunkan  masa  kerja obat (waktu paro = 1,7 jam) dan awal kerja obat menjadi lebih cepat (1-2 jam). Akrivastin digunakan untuk alergi kulit yang kronis. Dosis : 8 mg 3 dd. 




 

 


REFERENSI

 Lisni, I., A. Anggriani dan R. Puspitasari. 2020. Kajian Peresepan Obat         Antihistamin Pada Pasien Rawat Jalan Di Salah Satu Rumah Sakit         Di Bandung. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia. 2(2): 52-62.

Sari, F dan S.W. Yenny. 2018. Antihistamin Terbaru Dibidang                         Dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. 7(4): 61-65.

Soegijanto, S. 2016. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di         Indonesia Jilid 3. Jakarta , Airlangga University Press.


 PERMASALAHAN 

1.  Dalam melakukan aktivitasnya, obat anti histamin memiliki reseptor reseptornya, ada berapa reseptornya serta bagaimana mekanisme kerjanya?

2. Obat turunan fenotiazin memiliki absorbsi yang cepat di dalam tubuh, mengapa demikian? Bahan khusu apa yang digunakan sehingga obat turunan ini lebih cepat diabsorbsi dalam tubuh?

3.  Bagaimana hubungan antara struktur dan aktivitas pada antagonis H2? Jelaskan!

4. Menurut beberapa jurnal, obat Promethazine-HCl dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan keracunan alkohol, reseptor apa yang di hambat?

1.

 

 

 


 

 

78 komentar:

  1. Bisa menjadi referensi dan memmberikan contoh-contoh sehingga membuat pembaca tidak bosan dan mudah mengerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih sudah meninggalkan kenangan dikolom komentar :) , dan jangan lupa mampir di artikel yang lain yaaaa :)

      Hapus
  2. Terinakasih mauli, sangat membantuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih elen sudah mampir dan meninggalkan kesan :)

      Hapus
  3. Sangat bermanfaat, terimakasih kak mauli

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, terimakasih, jangan lupa mampir di artikel yang lain yaaa :)

      Hapus
  4. blog nya sgt bermanfaat, terima kasih mauli🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih nona, jangan lupaa mampir dan meninggalkan kenangan di artikel yang lain yaa :D

      Hapus
  5. Ilmunya sangat bermanfaat, lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih faris sudah meninggalkan kesan diblog ini, jangan lupa mampir lagi yaa :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Hai zikra, terimakasih sudah mampir di blog ini, jangan lupa kembali lagi yaaa :)

      Hapus
  7. makasih bangeeet, blognya sangat bermanfaaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hello aulia, makasih yaaa udah mampirr, jangan lupa kembali lagiii :D

      Hapus
  8. Terimakasih kak atas ilmunya kak boleh tanya gak kak apa ada bahan yang engga boleh di campur dengan obat antihistamin ya kak terimakasih kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, terima kasih sudah mampir, mohon maaf, untuk lebih jelas itu bahan apa yang dimaksudkan?

      Hapus
    2. Bahan seperti obat apa saja yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan antihistamin

      Hapus
  9. Makasih kak.....boleh tanya kak apa saja contoh obat histamin untuk anak anak?

    BalasHapus
  10. Boleh tanya kak apakah obat antihistamin boleh dikonsumsi oleh bumil dan apa saja contohnya terimakasih kak

    BalasHapus
  11. terima kasih mauli..artikel nya sangat menarik baik dari materi sampai ke desain blognya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan saya izin menjawab permasalahan no1 dimana perbedaan reseptor yang bekerja pada histamin. bedasarkan web yang saya baca dimana Obat antihistamine (AH) pada dasarnya dikelompokkan menjadi 4, yaitu : AH-1 yang berfungsi sebagai antagonis reseptor H1 dimana reseptor H1 berfungsi untuk migrasi sel, nosisepsi, vasodilatasi, dan bronkokonstriksi. Obat-obatan golongan ini memang umum digunakkan sebagai obat-obatan antialergi, AH-2 yang berfungsi sebagai antagonis reseptor H2 dimana reseptor ini berfungsi untuk mengatur sekresi asam lambung, produksi mukus pada saluran pernapasan dan juga untuk mengatur permeabilitas vaskular, AH-3 yang berfungsi sebagai antagonis reseptor H3 yang berperan penting dalam penyakit inflamasi pada sistem saraf dan AH-4 yang berfungsi sebagai antagonis reseptor H4 dimana reseptor ini juga berperan penting sebagai salah satu reseptor dalam reaksi alergi dan inflamasi. jika ada kesalahan dalam jawaban diatas mohon diperbaiki terima kasih

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. hai cindii :D, terimakasih sudah mampir dan sudah memberikan jawaban yang sangat baik untuk permasalahan perbedaan tiap reseptor dalam mekanisme kerja histamin, jangan segan untuk mampir lagi yaaa :D

      Hapus
  12. Terimakasih mauli, pembahasannya sangat jelas menarik. Sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. haihai emelia, terimakasih sudah meninggalkan kenangan indah di blog ini, jangan segan untuk mampir lagi yaa :D

      Hapus
  13. Mau nanya, kak. Untuk sediaan antihistamin ini apakah ada bentuk sediaan selain yang ditampilkan di atas? Terima kasih, kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Edo, terimakasih sudah mampir di blog ini yaa, izin menjawab pertanyaan yang diberikan, untuk bentuk sediaan obat golongan antihistamin ini masih banyak yang lain selain dari yang saya paparkan pada dalam artikel ini, bentuk sediaan yang lain seperti berupa sirup,krim,gel,obat tetes mata,semprotan hidung,tablet,cairan, losion. Cetirizibe Hydrochloride merpakah salah satu contoh sediaan antihistamin dalam bentuk sirup. Terimakasih
      Jangan lupa mapir lagi yaa edo :)

      Hapus
  14. artikel yang menarik dan dilengkapi dengan contoh gambar,sehingga memudahkan dalam mempelajari antihistamin

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai akram, terimakasih sudah mampir di blog ini, jangan lupaa mampir di artikel yang lain yaa :)

      Hapus
  15. Artikel yang sangat bermanfaat sukses terus kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih yaaaa sudah mampirr, jangan lupa tinggalkan kesan di artikel lainnya :)

      Hapus
  16. Terimakasih dek,benar benar sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih abang sudah mampir di blog ini, jangan lupa mampir lagi yaa :)

      Hapus
  17. Terimakasih infonya, sering update info2 terbaru ya kak😄😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terimakasih yaa sudaah mampir, siapp ditunggu kenangan di komentar artikel terbaru nanti yaaa :D

      Hapus
  18. Terima kasih mauli atas informasinya, yg saya ingin tanyakan loratadine merupakan salah satu contoh obat dari golongan antihistamin, apakah obat ini memiliki interaksi dengan obat lain?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kakak sudah mampir di blog ini,izin menjawab untuk persoalan tersebut kak, Menurut Novita dan Destiani, 2019 dalam jurnalnya, obat loratadine jika digunakan bersamaan dengan obat-obatan tertentu, dapat menimbulkan efek interaksi obat berupa peningkatan efek samping atau penurunan efektivitas obat. sebagai contoh yakni obat cimetidine(obat untuk menangani masalah pencernaan), Erythromycin(antibiotik utnutk mengatasi infeksi bakteri), dan Ritonavir (obat untuk mengatasi infeksi HIV).

      Hapus
  19. assalamualaikum, izin menjawab pertanyaan nomor 3 mauli
    hubungan antara struktur dan aktivitas pada antagonis H2 ada 3 yaitu modifikasi pada cincin, modifikasi pada rantai samping dan modifikasi pada gugus N.
    a. Modifikasi pada cincin
    Cincin imidazol dapat membentuk dua tautomer , yaitu N- H dan N-H. Bentuk N-H lebih dominan dan diperlukan untuk aktivitas antagonis H2-Metiamid , dengan bentuk N-H , mempunyai aktiitas 5 kali lebih besar dibanding burimamid yang mempunyai bentuk N-H. Cincin imidazol pada umumnya mengandung rantai samping gugus yang bersifat penarik eletron . Pemasukan gugus metil pada atom C2 cincin imidazol secara selektif dapat merangsang reseptor H1. Pemasukan gugus metil pada atom C4 ternyata senyawa bersifat selektif H2 , agonis dengan efek H-1 agonis lemah. Hal ini disebabkan substituen 4 –metil yang bersifat donor elektron yang akan memperkuat efek tautomeri rantai penarik eletron sehingga bentuk tautomer N-H lebih stabil. Modifikasi yang lain pada cincin ternyata tidak menghasilkan efek H2-antagonis yang lebih kuat.

    b. Modifikasi pada rantai samping
    Untuk aktivitas optimal cincin harus terpisahdari gugus N oleh atom C atau ekivalennya. Pemedekan rantai dapat menurunkan aktivitas antagonis H2. Penambahan panjang gugus metilen pada rantai samping turunan guanidin akan meningkatkan kekuatan H2-antagonis tetapi senyawamasih mempunyai efek persial-agonis yang tidak diinginkan.
    Penggantian 1 gugus metilen (-CH2-) pada rantai samping dengan isosteik tioeter (-S-) meningkatkan aktivitas antagonis.

    c. Modifikasi pada gugus N
    Penggantian gugus amino rantai samping dengan gugus guanidin yang bersifat basa kuat (Na-guanilhistamin) ternyata menghasilkan efek H2-antagonis lemah, dan masih bersifat parsial agonis.

    terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh terimakasih banyak saudari sellya yang telah menjawab permasalahan bagaimana hubungan antara struktur dan aktivitas pada antagonis h2 dengan sangat jelas dan terperinci. jangan segan untuk mampir lagi yaa :)

      Hapus
  20. Wah, bagus sekali artikelnya, sangat membantu pemahaman saya

    BalasHapus
  21. Wahhh mantap kakk. Good
    Terus berkaryaaa kakk

    BalasHapus
  22. Terimakasih mauli atas informasinya. Yang ingin saya tanyakan, salah satu efek samping antihistamin menyebabkan kantuk, boleh antihistamin di konsumsi oleh orang yang mengalami insomnia ?

    BalasHapus
  23. artikelnya sangat lengkap dan membantu ya, saya juga akan menjawab pertanyaan no.4 ,menurut Patil dkk, pada jurnal International Journal of Biopharmaceutics. Vol 5(1): 59-64 tahun 2014 dengan judul Formulation and Evaluation of Promethazine HCl Fast Disintegrating Sublingual Tablets.
    Promethazine – HCl Promethazine-HCl (C17H20N2S,HCl) adalah hidroklorida dari 10-(2-dimethylamnino-n-propyl) phenothiazine. Promethazine-HCl dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri-UV akibat adanya gugus kromofor dan auksokrom. Memiliki aksi sebagai antikolinergik, antiemetikum, lokal anastesi, dan memiliki sifat sedatif. Digunakan sebagai obat mual (antiemetikum) pada kasus motion sickness atau mabuk perjalanan. Promethazine-HCl merupakan antagonis reseptor H1, sehingga berkompetisi dengan histamin bebas untuk berikatan dengan reseptor H1, agar histamin bebas tidak dapat berinteraksi dengan sisi aktif reseptor untuk mencegah timbulnya mual.
    sekian jawaban dari saya semoga membantu ya..

    BalasHapus
  24. Uwaaahhh lengkap swkaliiii d sertai contoh yg dpt d paham. Syukron ilmunnya kakak:))

    Do Tunggu blog selanjut

    BalasHapus
  25. Wahh mantab kak artikelnya sangat bermanfaat..

    BalasHapus
  26. Terimakasih atas artikel nya sangat membantu sekali

    BalasHapus
  27. Good artikelnya sangat membantu saya sebagai pelajar

    BalasHapus
  28. Terima kasih kak artikel nya sangat membantu sekali kak

    BalasHapus
  29. "Terimakasih atas ilmunya, semangat untuk artikel selanjutnya"

    BalasHapus
  30. Ga sia2 buka blog ini sangat membantu bgt 🤗

    BalasHapus
  31. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  32. Keren, terimakasih berbagi ilmunya

    BalasHapus
  33. Ma sha Allah, terimakasih ilmunya

    BalasHapus
  34. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  35. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  36. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  37. Terimakasih, artikelnya sangat membantu

    BalasHapus
  38. Artikelnyaa sangatt bermanfaat sekali^^

    BalasHapus
  39. Artikelnyaa sangatt bermanfaat sekali^^

    BalasHapus
  40. Maa syaa allah, sangat bermanfaat

    BalasHapus
  41. Makasih atas ilmunya, sangat bermanfaat

    BalasHapus