Senin, 30 November 2020

ANTIHISTAMIN II



Histamin 

Histamin adalah senyawa normal yang ada dalam jaringan tubuh, yaitu pada jaringan sel mast dan peredaran basofil, yang berperan terhadap berbagai proses fisiologis penting. Histamin dikeluarkan dari tempat pengikatan ion pada kompleks heparin protein dalam sel mast, sebagai hasil reaksi antigen-antibodi, bila ada rangsangan senyawa alergen. Senyawa alergen dapat berupa spora, debu rumah, sinar ultra-violet, cuaca, racun, tripsin dan enzim proteolitik lain, detergen, zat warna, obat, makanan dan beberapa turunan amin. Histamin cepat dimetabolisis melalui reaksi oksidasi, N-metilasi dan asetilasi. Sumber histamin dalam tubuh adalah histidin yang mengalami dekarboksilasi menjadi histamin (Soegijanto, 2016).

Reseptor Histamin

Histamin mempunyai beberapa reseptor yaitu reseptor H1, H2, H3 dan H4. Melalui reseptor ini histamin mempunyai efek fisiologis. Pada resptor H1, histamin meningkatkan permeabilitas kapiler, kontraksi otot polos saluran cerna dan pernapasan, pelepasan mediator inflamasi dan penarikan sel-sel inflamasi.

 

Mekanisme Kerja Histamin

Bersama reseptor H2 menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler, bertanggung jawab pada urtikaria dan gejala anafilaksis seperti hipotensi, flushing, sakit kepala dan takikardia. Afinitas terhadap reseptor H1 adalah 10 kali lebih kuat daripada terhadap H2 yang banyak terdapat pada lambung yang menyebabkan peningkatan sekresi asam, serta pada jantung yang menyebabkan peningkatan kontraksi jantung. Reseptor H3 berperan dalam mengontrol umpan balik negatif (negative feedback) pada sintesis dan pelepasan histamin. Untuk reseptor H4 belum jelas pelepasannya tetapi diduga berfungsi sebagai kontrol reseptor H3 dan sebaliknya. Didalam bidang alergi dikembangkan obat antihistamin yang merupakan antagonis reseptor histamin. Strukturnya mirip seperti histamin sehingga fungsinya sebagai antagonis reseptor dapat dipenuhi (Soegijanto, 2016).

Antihistamin merupakan obat yang sering dipakai dibidang dermatologi, terutama untuk kelainan kronik dan rekuren. Antihistamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor histamin. Antihistamin dan histamin berlomba untuk menempati reseptor yang sama. Ada empat tipe reseptor histamin, yaitu H1, H2, H3, dan H4 yang keempatnya memiliki fungsi dan distribusi yang berbeda. Pada kulit manusia hanya reseptor H1 dan H2 yang berperan utama. Blokade reseptor oleh antagonis H1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah. Histamin memiliki peranan yang penting dalam patofisiologi penyakit alergi. Histamin adalah amina dasar yang dibentuk dari histidin oleh histidine dekarboksilase. Histamin ditemukan pada semua jaringan, tetapi memiliki konsentrasi yang tinggi pada jaringan yang berkontak dengan dunia luar, seperti paru-paru, kulit, dan saluran pencernaan. Ada empat jenis reseptor histamin, namun yang dikenal secara luas hanya reseptor histamin H1 dan H2. Reseptor H1 ditemukan pada neuron, otot polos, epitel dan endotelium. Reseptor H2 ditemukan pada sel parietal mukosa lambung, otot polos, epitelium, endotelium, dan jantung. Sementara reseptor H3 dan H4 ditemukan dalam jumlah yang terbatas. Reseptor H3 terutama ditemukan pada neuron histaminergik, dan reseptor H4 ditemukan pada sum-sum tulang dan sel hematopoitik perifer.

 

Antagonis-H2

Antagonis-H2 adalah senyawa yang menghambat secara bersaing interaksi histamine dengan reseptor  H2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung.secara umum digunakan untuk pengobatan tukak lambung  dan usus. Efek samping antagonis-H2 antara lain adalah diare, nyeri otot dan kegelisahan.

Antagonis H2 digunakan dalam pengobatan kondisi berikut:

  • Penyakit tukak lambung – mereka digunakan untuk mengobati dan mencegah tukak; faktor penyebab termasuk penggunaan NSAID dan ulkus duodenum.
  • Dispepsia
  • Penyakit gastroesophageal reflux (GERD)
  • Profilaksis tukak stres
  • Sindrom Zollinger-Ellison

Mekanisme kerja

Sekresi asam lambung dipengaruhi oleh histamine, gastrin dan asetilkolin. Antagonis H2 menghambat secara langsung kerja histamine pada sekresi asam (efikasi intrinsic) dan menghambat kerja potensial histamine pada sekresi asam yang direncang oleh gastrin  atau asetilkolin (efikasi potensiasi). Jadi histamin mempunyai efekasi intrinsic dan efikasi potensiasi, sedang gastrin dan asetilkolin hanya mempunyai efikas potensiasi. Hal ini berarti bahwa hanya histamine yang dapat meningkatkan sekresi asam, sedang gastrin atau asetilkolin hanya meningkatkan sekresi asam karena efek potensiasinya dengan histamine (Lisni et al., 2020)

Obat-Obat Antagonis H2 Meliputi:

  • Simetidin
  • Famotidine
  • Ranitidine
  • Nizatidine

1.    Simetidin



Dari semua antagonis H2, simetidin dikaitkan dengan sebagian besar efek samping dan sebagian besar interaksi obat. Antagonis selanjutnya – seperti ranitidine dan famotidine – dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki sedikit, jika ada, interaksi obat yang serius. Simetidin diketahui mempunyai cincin imidazole, dan dengan perkembangannya, cincin ini diganti dengan senyawa furan (ranitidine) atau dengan tiazol (famotidine,nizatidin). Obat-obat antagonis h2 bersifat lebih hidrofilik dibandingka dengan antagonis h11 dan dapat mencapai SSP. Simetidin,ranitidine dan famotidine memiliki pengaruh yang kecil terhadap fungsi otot polos lambung dan tekanan sfinter esophagus. Nizatidin dapat menekan kontraksi asam lambung sehingga memperpendek waktu pengosongan lambung dan hal ini diduga karena efeknya menghambat asetilkolinesterase.

FARMAKOKINETIK

Antagonis h2 diabsorbsi secara cepat dan baik setelah pemberial oral. Konsentrasi puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam. Waktu paruh eliminasi ranitidine, simetidin dan famotidine kurang lebih 2-3 jam sedangkan nizatidin lebih pendek yaitu 1,3 jam. Walaupun obat-obat ini mengalami metabolism hepatic, obat-obat ini diekresikan dalam jumlah besar di urine dalam bentuk utuh sehingga pada gangguan ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis.

 

INDIKASI KLINIK

Pada ulkus lambung dan duodenal. Antagonis h2 dapat menurunkan sekresi asam, baik nocturnal maupun basal yang diransang oleh makanan atau factor lain, seperti obat-obatan (AINS). Obat ini dapat menekan rasa nyeri akibat ulkus tersebut. Kemampuan yang terbaik dalam menurunkan asam ini adalah famotidine dan nizatidin, diikuti ranitidine dan terakhir simetidin. Untuk pengobatan ulkus lambung duodenal, dosis harian yang dibutuhkan sebelum tidur (simetidin 800 mg, ranitidine 300mg, famotidine 40 mg, dan niztidine 300mg) atau dosis dibagi 2 dengan 2x pemberian. Ulkus duodenal biasanya memberikan  respons yang baik setelah pengobatan 4-8 minggu diikuti dosis pemeliharaan, sedangkan pada pengobatan ulkus lambung perlu waktu 8 minggu untuk 50-75% penderita sehingga untuk pegobatan ulkus lambung lebih lama pengobatan kesembuhan lebih tinggi.

 

EFEK SAMPING

Simetidin dapat menimbulkan efek samping seperti diare, pusing, kelelahan dan rash.

 

2.   RANITIDINE 



Menurut Utama et al (2016), Ranitidin sebagai antagonis histamin reseptor histamin H2 untuk menghambat sekresi asam lambung diketahui dapat mengkoreksi asidosis metabolik. Ranitidin yang telah dianggap sebagai inhibitor enzim gastric alcohol dehydrogenase dan hepatic aldehid dehydrogenase untuk mencegah pembentukan asam format. Sehingga ranitidin dapat digunakan sebagai antidotum terapetik pada keracunan methanol.

 

MEKANISME KERJA

Ranitidin hcl merupakan antagonis kompetitif histamin yang khas pada reseptor H2 sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam lambung, menekan kadar asam dan volume sekresi lambung.

 

FARMAKOKINETIK

Ranitidin hcl diserap 39 – 87 % setelah pemberian oral dan mempunyai masa kerja yang cukup panjang, pemberian dosis 150 mg efektif menekan sekresi asam lambung selama 8–12 jam. Kadar plasma tertinggi dicapai dalam 2–3 jam setelah pemberian oral, dengan waktu paro eliminasi 2–3 jam.

 

EFEK SAMPING

Efek samping Ranitidin hcl antara lain hepatitis, trombositopenia dan leukopenia yang terpulihkan, sakit kepala dan pusing.

 

KEGUNAAN

Ranitidin hcl digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus dan keadaan hipersekresi yang patologis, misal sindrom Zollinger–Ellison.

 

DOSIS

Dosis Ranitidin hcl adalah 150–300 mg

 

3.Famotidin



Menurut Sari et al (2019), Famotidin merupakan obat antihistamin H2 yang biasa digunakan untuk pengobatan penyakit tukak lambung (peptic ulcer), tukak duodenal, ataupun juga keadaan hipersekresi yang patologis misalnya pada sindrom Zollinger-Ellison. Famotidin memiliki bioavailabilitas yang rendah yaitu 40-45% dan memiliki shelf life 2,5-4 jam. Sebagai antagonis H2, famotidin memiliki daerah absorpsi spesifik pada sel parietal lambung yang berada di bagian atas lambung.

MEKANISME KERJA

Famotidin merupakan antagonis kompetitif histamin yang khas pada reseptor H2, sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam lambung, menekan kadar asam dan volume sekresi lambung. Famotidin merupakan antagonis H2 yang kuat dan sangat selektif dengan masa kerja panjang.

 

FARMAKOKINETIKA

Penyerapan Famotidin dalam saluran cerna tidak sempurna 40–45 % dan pengikatan protein plasma relatif rendah 15–22 %. Kadar plasma tertinggi dicapai dalam 1–3 jam setelah pemberian oral, waktu paro eliminasi 2,5–4 jam, dengan masa kerja obat 12 jam.

 

EFEK SAMPING

Efek samping obat antara lain adalah trombositopenia, konstipasi, diare, sakit kepala dan pusing.

KEGUNAAN

Famotidin digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus dan keadaan hipersekresi yang patologis, misal sindrom Zollinger–Ellison.

 



 PERMASALAHAN


1. Ranitidine merupakan obat golongan antihistamin h2 yang dapat digunakan sebagai antidotum terapetik pada keracunan alcohol, apakah jenis obat lain yang masih satu golongan dengan antihistamin h2 juga dapat mengatasi hal tersebut? jelaskan.

2. Bagaimana cara mengurangi efek samping dari penggunaan obat simetidine? jelaskan.

3. mengapa pada penyerapan famotidine dalam saluran cerna tidak sempurna 40–45 % dan pengikatan protein plasma relatif rendah 15–22 %? apa penyebabnya?.




Referensi

 

Lisni, I., A. Anggriani dan R. Puspitasari. 2020. Kajian Peresepan Obat         Antihistamin Pada Pasien Rawat Jalan Di Salah Satu Rumah Sakit         Di Bandung. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia. 2(2): 52-62.

 

Sari, S.P., A.N. Bestari Dan T.N.S. Sulaiman. 2019. Optimasi Formula Tablet Floating Famotidine Menggunakan Kombinasi Matriks Gum Xanthan Dan Hidroksi Propil Metil Selulosa K100M. Majalah Farmaseutik. 15(2) : 86-95.

 

Utama, T.C.M., G. Suharto Dan Sabani. 2016. Pengaruh Pemberian Ranitidine Terhadap Gambaran Histopatologi Oaru Tikus Wistar Pada Pemberian Methanol Dosis Bertingkat. Jurnal Kedokteran Diponegoro. 5(4): 1794-1803.

 

 

 

 


27 komentar:

  1. Haayyyy maulizarniii, terimakasih atas ilmunya, disini saya izin menjawab pertanyaan nomr 2.

    Menurut buku ajar farmakologi, suatu obat dapat menunjukkan efek terapi sesuai dengan dosisnya.
    Setiap tubuh akan berbeda dalam menanggapi sesuatu reaksi obat, ada yang dalam dosis rendah sudah memberikan efek terapi ada juga yang dalam dosis tinggi tubuh menunjukkan reaksi terapi nya.
    untuk itu, suatu obat harus dikonsumsi dalam dosis yang di anjurkan agar tercapai efek terapi dan hal tersebut dapat terhindar dari efek yang tidak dikehendaki oleh tubuh.

    terimakasih maulizarni, semoga bermanfaat:))

    BalasHapus
  2. Terima kasih kak artikel nya sangat membantu sekali kak

    BalasHapus
  3. Terimakasih, sangat membantu, semoga bermanfaat bagi yang membaca

    BalasHapus
  4. "Terimakasih atas ilmunya, semangat untuk artikel selanjutnya"

    BalasHapus
  5. Terimakasih artikel nya kk💛💛💛💛

    BalasHapus
  6. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  7. Terimakasih, artikelnya sangat membantu

    BalasHapus
  8. Artikelanya sangat membantu sekalii^^

    BalasHapus
  9. Terimakasih artikel nya sangat bermanfaat :))

    BalasHapus