HEMATOLOGI
Hematologi ialah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan jaringan limforetikuler serta kelainan-kelainan yang timbul darinya. Hematologi mempelajari baikkeadaan fisiologik maupun patologik organ-organ sehingga hematologi meliputi bidang ilmu kedokteran dasar maupun bidang kedokteran klinik. Di bidang ilmu penyakit dalam, hematologi merupakan divisi tersendiri yang bergabung dengan subdisiplin onkologi medik. Hematologi dalam hal ini membahas hematologi dasar, hematologi klinik, dan imunohematologi. Perkembangan imunologi, biologi molekuler dan genetika (Handayani dan Haribowo, 2008).
FISIOLOGI SISTEM HEMATOLOGI
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), dalam keadaan fisiologis, darah selalu berada dalam pembuuh, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai berikut.
1. Sebagai alat pengangkut yang meliputi hal-hal berikut ini:
- mengangkut gas co2 dari jaringan perifer kemudian dikeluarkan melalui paru-paru untuk diditribusikan kejaringan yang memerlukan.
- mengangkut sisa-sisa/ampas dari hasik metabolism jaringan berupa urea, kreatinin, dan asam urat
- mengangkut sari makanan yang diserap melalui usus untuk disebarkan keseluruh jaringan tubuh
- mengangkut hasil-hasil metabolism
2. Mengatur keseimbangan cairan tubuh
3. Mengatur panas tubuh
4. Berperan seta dalam mengatur ph cairan tubuh
5. Mempertahankan tubuh dari serangan penyakit infeksi
6. Mencegah perdarahan
Darah merupakan medium transport tubuh, volume darah manusia sekitar 7-10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Keadaan jumlah darah pada tiap-tiap orang tidak sama, bergantung pada usia, perkerjaan, serta keadaan jantung atau pembuuh darah.
Komponen darah
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), darah terdiri atas dua komponen utama yaitu :
1. Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah.
2. Butir-butuh darah (blood corpluscles), yang terdiri atas komponen-komponen berikut ini:
· Eritrosit : sel darah merah (SDM- red blood cell)
· Leukosit : sel darah putih ( SDP-white blood cell)
· Trombosit : butir pembeku darah (platelet)
Sel darah merah ( eritrosit )
Struktur eritrosit
Sel darah merah merah (eritrosit) yang merupakan cairan bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron. Bikonkavitas memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar sel secara cepat dengan jarak yang pendek antara membrane dan inti sel. Warnanya kuning kemerah-merahan, karena di dalamnya mengandung suatu zat yang disbut hemoglobin. Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria dan ribosom, serta tidak dapat bergerak. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis, fosforilasi oksidatif sel, atau pembentukan protein.
Komponen eritrosit adalah sebagai berikut:
1. Membrane eritrosit
2. Sistem enzim: enzim G6PD ( Glucose 6-Phosphatedehydrogenase)
3. Hemoglobin, komponennya terdiri dari heme yang merupakan gabungan protoporfirin dengan besi dan globin yang merupakan bagian protein yang terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen, satu gram hemoglobin akan bergabung dengan 1,34 ml oksigen. Oksihemoglobin merupakan hemoglobin yng berkombinasi/berikatan dengan oksigen. Tugas akhir hemoglobin adalah menyerap karbondioksida dan ion hydrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari hemoglobin.
Produksi sel darah merah (eritropoesis)
1. Ukuran sel semakin kecil akibat mengecilnya inti sel
2. Inti sel menjadi makin padat dan akhirnya dikeluarkan pada tingkatan eritroblas asidosis
3. Dalam sitoplasma dbentuk hemoglobin yang diikuti dengan hilangnya RNA dari dalam sitoplasma sel.
Jumlah eritrosit
Jumlah normal pada orang dewasa kira-kira 11,5-15 gram 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5% dan Hb laki-laki 13,0 mg%.
Antigen sel darah merah
Sel darah merah memiliki bermacam-macam antigen spsifik yang terdapat di membrane sel nya dan tidak ditemukan dis el lain. Antigen-antigen itu adalah A,B,O dan Rh.
Penghancuran Sel Darah Merah
Sel darah putih (Leukosit)
Struktur leukosit
Bentuknya dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu ( pseudopodia ), mempunyai bermacam-macam inti sel, sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya serta warnanya bening (tidak berwarna). Sel darah putihdibentuk disumsung tulang sel-sel bakal. Jenis-jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang tidak bergranula, yaitu : eosinophil,basophil,neutrophil.
Fungsi sel darah putih
1. Sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang masuk kedalam tubuh jaringan RES (sistem retikulo endotel)
2. Sebagai pengankut, yaitu mengangkut/ membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke pembuluh darah.
Jenis-jenis sel darah putih
1. Agranulosit, memiliki granula kecil didalam protoplasmanya, memiliki diameter sekitar 10-12 mikron. Berdasarkan pewarnaan granula, granulosit terbagi menjadi 3 kelompok yakni:
· Neutrophil yakni granula yang tidak berwarna mempunyai inti sel yang terangkai, kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik halus/granula serta banyaknya sekitar 60-70%.
· Eosinophil yakni granula berwarna merah dengan pewarnaan asam, granula dalam sitoplasmanya lebih besar.
· Basophil yakni granula yang berwarna biru degan pewarnaan basa, sel ini lebih kecil daripada eosinophil.
·
2. Granulosit, terdiri atas limfosit dan monosit.
· Limfosit, memilki nucleus besar bulat dengan menempati sebagian besar sel limfosit berkembang pada jarinagn limfe. Berfungsi membunuh dan memakan bakteri yang masuk kedalam jaringan tubuh. Limfosit ada 2 macam yaitu limfosit T dan limfosit B.
· Monosit, memilki ukuran yang lebih besar dari lomfosit, protoplasmanya besar, warna biru sedikit abu-abu serta mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan, berfungsi sebagai fagosit.
Keeping darah (trombosit)
Struktur trombosit
Trombosit ini berbentuk cakram bulat, oval , bikonveks, tidak berinti dan hidup sekitar 10 hari.
Fungsi trombosit
Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan darah. Fungsi lain dari trombosit yaitu untuk mengubah bentuk dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh yang cedera. Trombosit akan menjadi lengket dan menggumpal bersama membentuk sumbat trombosit yang secara efektif menambal daerah yang luka.
PEMBEKUAN DARAH
Pembekuan darah adalah proses dimana komponen cairan darah ditransformasi menjadi material semisolid yang dinamakan bekuan darah. Bekuan darah tersusun terutama oleh sel-sel darah yang terperangkap dalam jarring-jaring fibrin. Fibrin adalah suatu protein yang tidak larut dan berupa benang berbentuk semacam jaring-jaring. Fibrin yang terbentuk berasal dari fibrinogen yang terdapat dalam plasma dalam keadaan larut. Proses pembekuan darah dibagi menjadi 3 yakni:
· Stadium I : pembentukan tromboplastin
· Stadium II : perubahan dari protrombin menjadi thrombin
· Stadium III : perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin
LANGKAH-LANGKAH FAKTOR INTRINSIK DAN EKTRINSIK DALAM PEMBEKUAN DARAH
Apabila jaringan mengalami cedera, jalur ekstrinsik akan diaktivasi dengan pelepasan substansi yang dinamakan tromboplastin. Sesuai urutan urutan reaksi, protombin mengalami konversi menjadi thrombin, yang apda gilirannya mengatalisir fibrinogen menjadi fibrin. Kalsium merupakan ko-factor yang diperlukan dalam berbagai reaksi ini. Pembekuan darah melalui jalr intrinsic diaktivasi saat lapisan kolagen pembuluh darah terpajan. Factor pembekuan kemudaian secara berurutan akan diaktifkan, seperti jalur ektrinsik sampai pada akhirnya membentuk fibrin.

(Handayani dan Haribowo, 2008).
ANTIKOAGULAN
Antikoagulan adalah terapi utamauntuk pencegahan dan pengobatan akut dan jangka panjang dari berbagai macam tipe penyakit tromboemboli.1,2Atrial fibrilasi merupakan salah satu penyakit yang banyak menggunakan antikoagulan untuk pencegahan stroke tromboemboli. Selain itu, antikoagulan juga banyak digunakan pada pasien dengan sindrom koroner akut, pencegahan dan terapi tromboemboli vena termasuk trombosis vena dalam dan emboli paru.1,2 Antagonis vitamin K (warfarin), heparin (unfractionated heparin, low molecular-weight heparin, direct thrombin inhibitor (argatroban dan dabigatran), dan penghambat factor Xa (apixaban, fondaparinux, dan rivaroxaban) merupakan antikoagulan yang digunakan untuk terapi dan pencegahan utama pada penyakit tersebut ( Erlanda dan Karani, 2018).
Menurut Suseno dan Syam (2018), Golongan antikoagulan menghambat pembentukan trombus dengan cara menghambat kaskade hemostasis dalam tubuh. Golongan ini dibagi menjadi empat kelas, yaitu:
1) antagonis vitamin K (contoh: warfarin);
2) derivat heparin (misal: unfractionated heparin, low molecular weight heparin);
3) direct oral anti coagulant (DOAC)/ novel oral anti coagulant (NOAC) yang terdiri dari inhibitor factor X a (misal: rivaroxaban, apixaban, edoxaban) dan inhibitor thrombin (misal: dabigatran, argatraban).
ANTAGONIS VITAMIN K (WARFARIN)
Farmakodinamik
99% terikat pada protein plasma terutama albumin.
Absorbsinya berkurang hila ada makanan di saluran cerna .
Farmakokinetik:
Mula kerja biasanya sudah terdeteksi di plasma dalam 1 jam setelah mempersembahkan.
Kadar puncak dalam plasma: 2-8 jam.
Waktu paruh: 20-60 jam; rata-rata 40 jam.
Bioavailabilitas: hampir sempurna baik secara lisan, 1M atau IV.
Metabolisme : ditransformasi menjadi metabolit inaktif di hati dan ginjal .
Ekskresi: melalui urine clan feses.
Indikasi:
Untuk profilaksis dan pengobatan komplikasi tromboembolik yang melayani dengan fibrilasi atrium dan penggantian katup jantung ; serta sebagai profilaksis kejadian emboli sistemik setelah infark miokard (disetujui FDA).Profilaksis TIA atau stroke berulang yang tidak jelas berasal dari masalah jantung .
Kontraindikasi.
Semua keadaan di mana risiko kejadian perdarahan lebih besar dari keuntungan yang diperoleh dari kesan anti koagulannya, termasuk pada kehamilan , kecenderungan perdarahan atau blood dyscrasias dll.
Interaksi obat :
Warfarin interact DENGAN Sangat Banyak obat Lain seperti asetaminofen, beta bloker, kortikosteroid, siklofosfamid, eritromisin, gemfibrozil, hidantoin, glukagon , kuinolon, sulfonamid, kloramfenikol, simetidin, metronidazol, omeprazol, aminoglikosida, tetrasiklin, sefalosporin, anti inflamasi non steroid , penisilin, salisilat, asam askorbat, barbiturat, karbamazepin dll.
Efek samping
Perdarahan dari jaringan atau organ, nekrosis kulit dan jaringan lain, alopesia, urtikaria , dermatitis, demam, mual, diare , kram perut, hipersensitivitas dan priapismus.
Referensi
Handayani, W dan A. S. Haribowo. 2008. Buku Ajar Asuhan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi. Salemba Medika, Jakarta.
Suseno, D dan A. F. Syam. 2018. Manajemen Terapi Antitrombotik Pada Prosedur Endoskopi. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 5 (1) : 46-51.
Erlanda, W dan Y. Karani. 2018. Penggunaan Antikoagulan Pada Penyakit Ginjal Kronik. Jurnal Kesehatan Andalas. 7 (2): 168-175.
PERMASALAHAN
1. Antikoagulan oral telah lama digunakan pada pasien dengan FA (Fibrilasi atrium) tetapi kurang dimanfaatkan mengingat ketakutan akan terjadinya perdarahan dan ketidakpastian pada pasien, nah apakah ada sediaan antikoagulan dalam bentuk lain yang dapat mengurangi efek samping dari antikoagulan oral ini? Jelaskan.
2. bagaimana mekanisme terjadina interaksi antara obat warfarin dengan obat golongan AINS?jelaskan.
3. mengapa obat argatraban dapat menjadi alternative dalam kasus resistensi terhadap obat heparin? jelaskan.





