Jumat, 11 Desember 2020

Rheumatoid Arthritis (RA)

 

Rheumatoid  Arthritis (RA)

Rheumatoid Arthritis (RA): Early Signs, Symptoms, Causes, Treatment & Diet

Definisi

Artritis rheumatoid (RA) merupakan pembengkakan pada jaringan ikat. Gangguan jenis ini kebanyakan menyerang persendian tangan dan kaki. Artritis rheumatoid dapat menyerang semua golongan usia. Namun, penyakit ini lebih banyak menyerang kaum wanita, hampir 3 kali lipat dari pria, terutama usia 30-50 tahun. Artritis rheumatoid bersifat kambuhan, penyebab artritis rheumatoid tidak diketahui secara pasti. Diduga penyebab utamanya karena gangguan autoimunitas dan berhubungan dengan factor infeksi, genetis, dan endokrin. Saat ini dipercaya bahwa penderita yang mudah terkena artritis rheumatoid secara genetis mengembangkan antibody immunoglobulin g yang abnormal atau telah berubah saat terkena suatu antigen (Wijayakusuma, 2006).



Menurut (Wijayakusuma, 2006) gejala- gejala yang dialami oleh penderita artritis rheumatoid seperti:

- Tidak enak badan

- Kelelahan

- Rasa dingin pada kaki dan tangan

- Demam ringan terus menerus

- Kekakuan umum

- Nyeri pada sendi

- Peradangan

- Bengkak

- Sendi berwarna merah

- Panas apabila disentuh

 

Ada beberapa faktor penyebab artritis rheumatoid menurut Utami (2005) yakni:

1.  Factor keturunan dan lingkungan

Terjadi hubungan erat antara hla-dw4 dengan artritis rheumatoid seropositif. Hubungan ini menunjukkan bahawa penderita memiliki resiko 4 kali lebih mudah terserang penyakit ini.

2.  Pengaruh hormone seks

Perempuan dengan hormone estrogen lebih berpeluang terkena penyakit ini di bandingkan pria.  Hormone estrogen santa penting untuk menjaga kepadatan tulang. Kekurangan hormone ini mengakibatkan lebih banyak penghancuran tulang dibandingkan pembentukan tulang hal ini mempercepat dan memperberat penyakit artritis rheumatoid.

3.  Pengaruh usia

Umur 35-45 tahun leih rentan terhadap penyakit ini.

4.  Adanya infeksi

Infeksi di bagian persendian akibat bakteri, mikroplasma, koloni jamur dan virus bias menimbulkan sakit yang terjadi secara mendadak.

5.  Munculnya heat shock protein (HSP)

Heat shock protein merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang muncul sebagai bentuk respon tubuh yang sedang mngalami stress. Namun keberadaan protein ini justru memicu terjadinya artritis rheumatoid.

Patofisiologi

Rheumatoid arthritis akibat reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melibatkan proses fagositosis. Dalam prosesnya, dihasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut selanjutnya akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya terjadi pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan merasakan nyeri akibat serabut otot mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya kemampuan elastisitas pada otot dan kekuatan kontraksi otot ( Chabib et al., 2016) .



Manisfestasi Klinis



RA pada umumnya sering di tangan, sendi siku, kaki, pergelangan kaki dan lutut. Nyeri dan bengkak pada sendi dapat berlangsung dalam waktu terus-menerus dan semakin lama gejala keluhannya akan semakin berat. Keadaan tertentu, gejalahanya berlangsung selama beberapa hari dan kemudian sembuh dengan melakukan pengobatan (Chabib et al., 2016).

 

Terapi Farmakologi



Tujuan dari pengobatan rheumatoid arthritis tidak hanya mengontrol gejala penyakit, tetapi juga penekanan aktivitas penyakit untuk mencegah kerusakan permanen. Pemberian terapi rheumatoid arthritis dilakukan untuk mengurangi nyeri sendi dan bengkak, serta meringankan kekakuan dan mencegah kerusakan sendi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien meringankan gejala tetapi juga memperlambat kemajuan penyakit (Chabib et al., 2016).

            Sampai saat ini terapi farmakologi untuk artritis reumatoid adalah obat-obat golongan imunosupresan (misalnya azatioprin, metotreksat, siklosporin), obat anti inflamasi non steroid (misalnya diklofenak, indometasin, piroksikam, ketorolak) dan kortikosteroid (misalnya metilprednisolon dan deksametason). Pengobatan artritis reumatoid yang bersifat kronik ini, memberikan efek samping yang cukup banyak ( Adnyana et al., 2012).

 

1.  Golongan Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARDS)

Disease modifying anti rheumatic drugs (dmards) memiliki potensi untuk mengurangi kerusakan pada sendi, mempertahankan integritas dan fungsi sendi dan pada akhirnya mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan produktivitas pasien ra. Semua dmards memiliki beberapa ciri yang sama yaitu bersifat relatif slow acting yang memberikan efek setelah 1-6 bulan pengobatan kecuali agen biologic yang efeknya lebih awal.obat-obat dmards yang sering digunakan pada pengobatan ra adalah metotreksat (MTX), sulfasalazin, leflunomide, klorokuin, siklosporin dan azatioprin.

·    Metotreksat (MTX)



Mekanisme kerja

Mekanisme kerja MTX adalah menghambat enzim dehidrofolat reduktase dalam proses pembentukan purin dan pirimidin.enzim dihidrofolat reduktase berguna untuk mengubah asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat dan juga menghambat enzim timidilate sintetase yang akan menyebabkan pengurangan jumlah timidilat dan folat yang merupakan komponen purin dan pirimidin yang dibutuhkan saat proses sintesis deoxyribonucleic acid (dna).sintesis dna yang dihambat akan menyebabkan apoptosis dari sel t yang telah teraktivasi.serta menghambat kemotaksis neutrophil (Suwarsa et al., 2017).

 

Farmakologi dan farmakokinetik

Secara oral, MTX dapat diberikan sebagai dosis tunggal setiap minggu, atau dosis terbagi dengan jarak 12jam (berdasarkan studi siklus sel).kedua cara pem-berian menunjukkan efektivitas yang sama. Jalur parenteral dipilih jika terdapat intoleransi gastrointestinal.5 sebanyak 35-50% obat diikat oleh albumin di sirkulasi. Kadar maksimal dalam darah tercapai 1-2 jam setelah pemberian. Waktu paruh mtx 6-7 jam, akan tetapi metabolit aktif utama derivat poliglutamat mengalami waktu paruh yang lebih panjang. Oksidasi hepatal membentuk 7-hydroxylmethotrexate, suatu metabolit minor.total 50-90% obat diekskresikan melalui urin setelah 24 jam, dengan prosentase yang rendah dalam sirkulasi entero-hepatik (Murniastuti dan Danarti, 2019).

Indikasi

Baik severe, active, classical, atau definite ra yang tidak responsif atau intoleran terhadap pengobatan konvensional. Metotreksat menghasilkan remisi berupa penurunan gejala seperti rasa nyeri dan dapat menghambat aktivitas penyakit atau mencegah kerusakan sendi.

Efek samping

Efek samping akibat penggunaan mtx dapat dibedakan menjadi:

1.     Sangat biasa (10%): ulcer mulut, nausea, diare, dan rambut rontok.

2.    Tidak biasa (1%): sakit kepala, bone marrow suppression, inflamasi paru dan hepar, dan gangguan renal.

3.    Sangat jarang (0,1%): kantuk dan reaksi anafilaksis.

 

Interaksi obat

1) NSAID dan salisilat.

2) barbiturat, fenitoin, retinoid (acitretin dan etretinat), sulfonilurea, dan

 

Kontraindikasi

Ibu hamil, ibu menyusui, neonatus, riwayat alkoholik, penyakit hepar (hepatitis dan sirosis), penyakit paru, diskriasias darah (anemia, leukopenia, trombositopenia).

 

Dosis

Metotreksat untuk dewasa adalah 7,5 mg satu kali seminggu atau 2,5 mg tiga kali seminggu dan dapat diminum paling tidak 12 jam dari dosis sebelumnya. Dosis mtx tidak diperbolehkan lebih dari 20 mg seminggu. Dosis mtx injeksi adalah 25 mg per 1 ml, diinjeksikan di bawah kulit. Pasien dengan clcr 61–80 ml/menit sebanyak 75% dosis dewasa normal; clcr 51–60 ml/menit sebanyak 70% dosis dewasa normal; dan clcr 10–50 ml/menit sebanyak 30–50% dosis dewasa normal. Apabila nilai bilirubin 3,1–5 mg/dl atau transaminase >3 kali uln, dosis MTX yaitu 75% dosis dewasa normal ( Puspitasari et al., 2014).

 

2.  Golongan Agen Biologi

Agen biologi secara umum terbagi menjadi 2 golongan obat, yaitu:

-TNF-α inhibitor (tumor necrosis factor alpha inhibitor) agen-agen biologi golongan tnf-α inhibitor adalah antibodi monoklonal yang memiliki mekanisme kerja serupa, yaitu menghambat kerja mediator inflamasi tnf-α. Beberapa agen biologi yang termasuk tnf-α inhibitorantara lain: adalimumab, golimumab, infliximab, certolizumab, dan etanercept. Penggunaan agen biologi golongan tnf-α. Inhibitor dapat bermanfaat bagi pasien ra yang kurang berespons pada pengobatan dmard

 

- Agen biologi non-TNF

Berbeda dengan agen biologi tnf-α inhibitor, agen biologi non-tnf berasal dari kelompok mekanisme kerja yang berbeda-beda. Abatacept mekanisme kerja pada selective  co-stimulation inhibitor rituximab mekanisme kerja pada anti-cd20 tocilizumab mekanisme kerja pada anti-interleukin-6.

 

3. Corticosteroid

Corticosteroid dapat bermanfaat memperbaiki peradangan dan gejala ra, sayangnya penggunaan corticosteroid jangka panjang berkaitan dengan berbagai efek samping yang merugikan. Oleh karena itu,penggunaannya dibatasi dalam jangka pendek. Sebaiknya dihindari pemberian bersama oains selagi menunggu efek terapi dari dmards. Berikan kortikosteroid dalam jangka waktu sesingkat mungkin dan dosis serendah mungkin yang dapat mencapai efek klinis. Dikatakan dosis rendah jika diberikan kortiksteroid setara prednison < 7,5 mg sehari dan dosis sedang jika diberikan 7,5 mg –30 mg sehari. Selama penggunaan kortikosteroid harus diperhatikan efek samping yang dapat ditimbulkannya seperti hipertensi, retensi cairan, hiperglikemi, osteoporosis, katarak dan kemungkinan terjadinya aterosklerosis dini.

 

4. NSAID

NSAID dapat bermanfaat memperbaiki gejala nyeri, akan tetapi tidak bermanfaat untuk memperbaiki perjalanan penyakit. Obat NSAID dapat diberikan pada pasien ar untuk mengurangi nyeri dan kekakuan pada sendi dengan menghambat siklooksigenase (COX).nsaid harus diberikan dengan dosis efektif serendah mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Perlu diingatkan bahwa nsaid tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ataupun mencegah kerusakan sendi. Kombinasi 2 atau lebih OAINS harus dihindari karena tidak menambah efektivitas tetapi meningkatkan efek samping.

REFERENSI

Adnyana, I. T., E. Y. Sukandar dan W. Indriasari. 2012. Anti-Rheumathoid Arthritis Effect Of Water Fraction Of Siwalan Fruit (Borassus Flabellifer L.) To Mice Induced By Complete Freund’s Adjuvants. Jurnal Medika Planta. 2(1): 54-61.

Chabib, L., Z. Ikawati.,  R. Martien dan H. Ismail. 2016.Review Rheumatoid Arthritis: Terapi Farmakologi, Potensi Kurkumin dan Analognya, serta Pengembangan Sistem Nanopartikel. Jurnal Pharmascience. 3 (1): 10-18.

Saraswati, D. S dan R. Danarti. 2019. Penggunaan Metotreksat Pada Dermatosis Anak. Media Dermato-Venereologica Indonesiana. 46 (1) : 45-50.

Utami, P. 2005. Tanaman Obat Untuk Mengatasi Rematik Dan Asam Urat. Jakarta, Agromedia Pustaka.

Wijayakusuma, H. 2006. Atasi Rematik Dan Asam Urat Ala Hembing. Jakarta, Puspa Swara.

 

 

PERMASALAHAN

1.     Selain beberapa golongan di atas, adakah pengobatan alternatif lain yang lebih efektif dalam mengobati penyakit RA ini? Jika ada, mengapa tidak banyak digunakan ?


2. Pengobatan pada RA kurang efesien, menghasilkan efek samping yang cukup besar, dan biaya cenderung mahal.Sehingga,alternatif pengobatan yang dapat dijadikan salah satu pilihan dalam tatalaksana RA yang dapat bersumber dari bahan alam, maupun turunan dari senyawa bahan alam,salah satunya dengan pengobatanherbal. Apakah dengan pengorbatan herbal ini memberikan efek lebih baik dalam penyembuhan penyakit RA ini? Jelaskan mekanisme kerja dari obat herbal tersebut.

3. Apakah obat golongan Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARDS) dapat digunakan pada pengobatan Rheumatoid  Arthritis yang di derita oleh bayi? Apakah efek samping yang didapat lebih tinggi?